RESENSI BUKU “Novel – Hafalan Shalat Delisa”

RESENSI BUKU “Novel - Hafalan Shalat Delisa”

SHALAT LEBIH BAIK DARI TIDUR

“ Asshalaatu khairum minan naum ! “

Ada sebuah keluarga di Lhok Nga Aceh, yang selalu menanamkan ajaran Islam dalam kesehariannya. Mereka adalah keluarga Abi Usman dan Umi Salamah. Mereka memiliki 4 bidadari yang sholehah : Alisa Fatimah, si kembar Alisa Zahra dan Alisa Aisyah, dan si bungsu Delisa. Abi Usman bekerja di tanker perusahaan minya internasional yang pulangnya 3 bulan sekali.

KALUNG SEPARUH HARGA

Hari ini adalah hari Ahad. Umi Salamah dan Delisa akan ke pasar Lhok Nga, membeli kalung hadiah hafalan shalat Delisa. Kalung yang dijanjikan Ummi sebulan lalu yang membuatnya semangat belajar menghafal bacaan shalat.

26 DESEMBER 2004 ITU !

Hari itu sekolah ramai oleh ibu-ibu. Satu per satu anak maju dan tiba giliran Delisa. Namun, seratus tiga puluh kilometer dari Lhok Nga, persis ketika Delisa usai bertakbiratul ihram, persis ucapan itu hilang dari mulut Delisa. Persis di tengah lautan luas yang beriak tenang. LANTAI LAUT RETAK SEKETIKA. Dasar bumi terbang seketika, merekah panjang ratusan kilometer. Gempa menjalar dengan kekuatan dahsyar. Banda Aceh rebah. Nias lebur seketika, Lhok Nga menyusul. Tepat ketika Delisa mengucapkan wa-ma-ma-ti, lantai sekolah bergetar hebat.

Situasi menjadi panik. Delisa sama sekali tidak memperdulikan apa yang terjadi. Delisa ingin khusuk. Tubuh Delisa terpelanting. Meremukkan tulang belakang betis kanannya.

PULANG KE LHOK NGA

Tiga minggu setelah Delisa di rumah sakit kapal induk, akhirnya ia diijinkan pulsng. Delisa dan Abi kembali ke Lhok Nga. Mereka tinggal bersama para korban lainnya di tenda-tenda pengungsian.

HARI-HARI BERLALU CEPAT

Abi Usman dan Delisa kembali ke rumahnya yang dibangun kembali dengan sangat sederhana. Kehidupan baru harus dimulai, dan menempati rumah sendiri walau seadanya. Abi juga memutuskan berhenti dari kapal tanker, dan ikut membantu sukarelawan yang mengurusi gardu listrik, alat pemancar, mesin-mesin, dan lain-lain.

AJARKAN KAMI ARTI IKHLAS

Pulang dari pemakaman massal itu Delisa jatuh sakit. Sudah tiga bulan lebih Delisa berusaha menghafal kembali bacaan shalatnya. Tetapi ia tidak mengalami kemajuan. Ia sama sekali susah menghafalnya.

“ Orang yang sulit melakukan kebaikan itu, mungkin karena hatinya Delisa… hatinya tidak ikhlas ! hatinya jatuh dari ketulusan… atau bisa juga misalnya seperti mengharap hadiah, mengharap imbalan “. Begitu kata Kak Ubai salah seorang relawan yang akrab dengan Delisa.

AJARKAN KAMI ARTI MEMAHAMI !

Dua pertiga malam. Dan Delisa sekali lagi berkesempatan mendapatkan penjelasan tentang hafalan bacaan shalatnya yang datang lewat mimpi. Sebuah mimpi bertemu dengan Ummi yang membawa kalung dengan huruf “D” untuk Delisa sebagai hadiah hafalannya. Ia sekarang bisa merangkaikan semua kejadian itu menjadi sebuah penjelasan yang indah. Sebuah pemahaman yang baik. Jawaban atas masalahnya.

HAFALAN SHALAT DELISA

Esok sorenya, Dokter Peter mengjinkan Delisa pulang. Seorang kakak sukarelawan menyarankan sesuatu padanya. Kaki palsu dari Dokter Eliza !. Bacaan shalat itu seperti berbicara kepada Delisa. Cepat sekali Delisa Menghafalnya. Lepas satu minggu, Delisa sudah nyaris hafal seluruhnya.

SABTU, 21 MEI 2005

Ubai mengajak Delisa dan murid-muridnya ke sebuah bukit. Mereka belajar menggurat kaligrafi di atas pasir. Sebelum pergi meninggalkan bukit, tiba-tiba seekor burung belibis terbang di atas kepalanya. Ketika itulah Delisa gemetar sekali. Ya Allah ! bukanlah itu seuntai kalung yang indah ?. Kalung itu tersangkut di tangan. Tangan yang sudah menjadi kerangka.  Putih tulang belulangnya. Utuh, bersandarkan semak belukar.
UMMI…


Baca Artikel Lainnya: